Thursday, July 07, 2005

Hubungan dua anak manusia....

http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/25/53/15255330/42-15255330.jpg">
Dua orang anak manusia yang berlainan jenis bertemu.Mereka berkenalan dan kemudian jatuh cinta. Mereka ingin dapat selalu hidup bersama. Mengukir cerita indah sampai akhir masa. Janji pernikahan pun mereka rencanakan. Mereka menikah lalu hidup bahagia selamanya.....ah indahnya....

Andai semua cerita sebuah hubungan antara dua anak manusia yang berlainan jenis bisa semulus narasi di atas, mungkin tidak akan ada perseteruan antara anak, orang tua, mertua dan mantu.

http://cache.corbis.com/CorbisImage/thumb/15/23/61/15236143/42-15236143.jpg">
Ternyata menjalin sebuah hubungan ke arah yang lebih serius itu tidak cukup dengan adanya rasa cinta di antara dua belah pihak (lelaki dan perempuan). Hubungan itu menjadi lebih komplek ketika sang lelaki dan perempuan memutuskan untuk menikah. Kenapa begitu? karena ternyata menjalin hubungan antara lelaki dan perempuan itu tidak hanya sebatas di antara mereka berdua, tapi juga melibatkan keluarga besar dari kedua belah pihak. Dan kalau di antara kedua belah pihak ini tidak ada rasa toleransi dan pengertian yang besar, maka akan sangat besar kemungkinannya dua orang yang tadinya jatuh cinta akan terlibat dalam masalah yang rumit yang bisa saja berakhir pada sebuah perpisahan.

Tidak percaya? boleh-boleh saja. Tapi aku melihat sendiri contoh kasus dari orang-orang yang aku kenal dekat, dan dari pengalamanku sendiri. Memang pada waktu mereka pacaran, masalah apapun tampaknya terlihat mudah....dan mereka percaya bahwa dengan modal cinta semua masalah akan terselesaikan. Tapi pada kenyataannya...mereka butuh yang lebih dari hanya sekedar cinta. Mereka butuh kesabaran (yang sangat besar), mereka butuh pengertian, mereka butuh toleransi, mereka butuh kemauan untuk berdiskusi (berkomunikasi) secara terbuka dan mereka wajib melakukan pengorbanan...dengan keikhlasan tentunya. Oh iya...satu lagi yang juga penting adalah adanya komitmen...komitmen untuk bersama-sama melakukan hal-hal tersebut.

Perkawinan tidak hanya menyatukan dua anak manusia yang berlainan jenis, tetapi juga menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Berasal dari satu suku tidak menjamin tidak munculnya masalah. Berasal dari dua suku yang berbeda, tapi memiliki rasa toleransi dan pengertian yang tinggi, pasti akan membantu mulusnya pertalian dua keluarga itu. Semua pihak yang terlibat dalam proses perkawinan hendaknya menyadari akan hal tersebut.

Akupun mengalami semua hal itu. Aku terus belajar untuk bisa bersabar, untuk lebih mengerti, untuk mau bertoleransi, untuk selalu membuka peluang diskusi/komunikasi dan untuk mau berkorban secara ikhlas. Sedih rasanya saat tahu ada seorang sahabat yang hampir gagal dalam perkawinannya karena kurangnya komunikasi, toleransi, pengertian dan kesabaran.

Semua hal penting di atas memang tidak bisa didapatkan dengan instan. Semua butuh proses pembelajaran, yang penting adalah kita tidak menyerah untuk terus belajar dari kesalahan-kesalahan kita. Dan yang juga penting adalah kita mau mengakui kesalahan kita dan mau belajar dari situ, supaya di kemudian hari tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Aku menuliskan ini bukan karena aku telah dapat menerapkan semua poin penting itu, tapi ini lebih sebagai refleksi terhadap diri sendiri. Menjadikan pengalaman orang lain sebagai pembelajaran buat diriku sendiri. Mungkin ada pendapat lain mengenai bagaimana baiknya menjalani sebuah hubungan yang sudah melibatkan keluarga besar, silakan membaginya denganku, karena aku juga sedang terus belajar.....

Orang yang bijak adalah orang yang jika melakukan kesalahan tidak hanya menyesalinya tapi juga menjadikan kesalahan itu pelajaran untuk kehidupannya di masa yang akan datang.