So, secara garis besar Manila itu gak jauh beda sama Jakarta. Tapi di beberapa tempat kayak di Jakarta tahun 80-an. Banyak rumah-rumah tua dan kumuh (Jakarta dulu kumuh gak sih? kayaknya malah rapian dulu yee...:P ). Berjalan-jalan di trotoar di kota Manila, anda harus siap-siap sapu tangan atau tissue. Sapu tangan atau tissue? untuk apa? untuk nutupin hidung anda...kenapa coba harus ditutupin? Karena sering sekali aku mencium bau urine (maksudnya bau pesing gitu lho :P) waktu jalan-jalan di trotoar kota Manila.
Di Jakarta memang masing suka kita cium bau pesing di sudut-sudut jalan, tapi kan tidak terlalu sering. Nah di sana tuh sering banget nyium bau pesingnya....ternyata warga Jakarta lebih sadar lingkungan daripada warga Manila (atau karena sekarang banyak bisnis WC umum ya di Jakarta :-D).
Dan seperti Jakarta, di Manila juga banyak pengemis dan gelandangan. Salah satu temen Pinoy pernah bilang, sebelum dia mengantar kami jalan-jalan, bahwa Manila sama seperti kota besar di negara berkembang lainnya, banyak pengemis dan gelandangan. Dan memang benar sih, selama perjalanan, pemandangan rumah kumuh, padat, dan para pengemis serta gelandangan banyak ditemui. Malah di suatu lapangan ada acara charity dari sebuah gereja untuk para gelandangan dan banyak sekali orang yang berkumpul.
Jadi waktu workshop di Manila kemarin, ada satu hari di mana kita diberi kesempatan untuk jalan-jalan. Dan berdasarkan rekomendasi teman kantor dan juga teman pinoy, kami akhirnya pergi ke Intramuros (Walled City), yaitu sebuah kota yang dikelilingi benteng, mirip dengan yang ada di Yogyakarta (kota dalam benteng). Intramuros ini berada di Old Manila, yang katanya merupakan cikal bakal dari kota Metro Manila. Dulunya merupakan kota yang dipagari oleh benteng yang tebal.

Ini gerbang Intramuros

Me and my friends inside Intramuros
Dan di dalam Intramuros ini memang kental sekali nuansa Eropa (dulu Filipina adalah jajahan Spanyol). Ada jalan yang dibuat dari batu-batu seperti yang pernah aku lihat di Brussels. Lalu arsitektur bangunan-bangunannya juga seperti bangunan-bangunan di Eropa. Di Intramuros inilah aku melihat sebuah rumah yang dijadikan museum. Rumah itu dulunya adalah milik pejabat tinggi pada masanya. Masuk ke dalam museum itu, seperti masuk ke dalam mesin waktu. Semua barang-barang, peralatan dapur, kamar mandi, dll, yang ada di dalamnya berasal dari jamannya. Menarik sekali, sayang kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar di sana. Hanya boleh mengambil gambar di luar ruangan.

Ini museum tampak dari jalan. Lihat jalanannya, dari batu kan? ;)

Di belakang lt.2 Museum
Oh ya...pedicab yang kemarin aku sempat sebutkan dalam postingan sebelumnya adanya di Intramuros ini.
Sebetulnya banyak tempat menarik di Old Manila ini, tapi karena waktunya sedikit, kami gak sempat keliling ke tempat lainnya. Pulang dari Intramuros kami makan di Manila Bay. Sebuah tempat di tepi laut yang cukup menarik. Dan ternyata di sana ada sebuah Kasino yang besar. Btw, perjudian di Filipina memang dilegalkan di tempat-tempat resmi ya seperti tempat judi yang ada di Manila Bay ini. Yang datang ke kasino itu banyak juga lho, dan mereka bermobil mewah. Kami sih gak masuk ke kasino itu, tapi memilih makan malam di sebuah floating restaurant (di atas kapal) di mana mereka nyajikan makanannya lamaaaaaaa banget....sampe mau masuk angin. Soalnya angin besar dan sudah malam. Ternyata lamanya itu karena mereka mengantarkan makanannya tidak mau satu persatu, tapi sekaligus semua makanan yang dipesan oleh rombongan kami. Bagus juga sih makannya bareng-bareng...tapi kelamaan nunggu, kembung bo!

Ini tempat kasino di Manila Bay, besar kan?
Namanya juga Jumbo Casino....:p
Kalau mengenai harga-harga di Manila, sebetulnya hampir sama dengan harga-harga di Jakarta, tapi memang ada beberapa barang yang harganya lebih murah di Manila. Makanan contohnya, harganya sedikit lebih murah dibandingkan harga makanan restoran di Jakarta. Harga angkutan umum juga relatif murah. Mungkin karena sama-sama negara berkembang kali ya. Dan ternyata di sana juga marak DVD dan CD bajakan...hehehe...ternyata hobinya sama...membajak, abis gimana dong...murah seh....
Oh iya...di Manila itu banyak banget mall-mall. Gak beda jauh sama Jakarta, tapi di sana lebih banyak lagi...di kota-kota tertentu dalam jarak beberapa kilo saja kita sudah bisa ketemu dengan 3-4 mall. Di deket tempat menginapku juga ada satu mall kecil. Satu kilo dari situ ada satu mall yang katanya mall terbesar di asia tenggara, namanya Mega Mall. Dan memang, mall itu sangat besar....kalo ngelilingin mall itu bakal gempor deh kaki...Dan seperti mall pada umumnya, Mega Mall juga ramai dikunjungi baik oleh orang lokal ataupun turis. Di sebelah Mega Mall ada Shangrilla Mall. 10 menit naik taksi dari Mega Mall, ada kawasan yang dinamakan Green Belt, yang ini juga kawasan Mall, tapi sedikit lebih elit dari mall lainnya karena letaknya di kawasan bisnis. Kayaknya pantas kalo Manila itu disebut kota seribu mall hehehehe...soalnya sejauh mata ini memandang kok mall melulu. Oh iya karena di Filipina juga (katanya) marak dengan terorisme, jadi setiap masuk mall, ada pemeriksaan tas, bahkan di Mega mall ada pemeriksaan tubuh, tentu saja pemeriksaan dilakukan sesuai dengan jenis kelaminnya :p (maksudnya yang laki-laki dengan laki-laki yang perempuan dengan perempuan).
Udah gitu, orang-orang berjilbab cenderung dicurigai, karena di Filipina itu orang muslim dianggap potensial teroris...sedih banget...hiks..hiks...padahal Islam kan agama yang damai.....karena takut ditangkep ma polisi...so aku gak berani foto-foto di sembarang tempat karena takut disangkain teroris yang sedang merencanakan pengeboman (seperti kasus yang di central station....huaaa....pengen nangis kalo inget kejadian itu....emang tampang manis dan lugu gini ada tampang teroris ya.....)
So...tiga postingan mengenai Manila ini hanyalah first impression dari orang yang baru pertama kali ke sana. Dan karena ke sananya untuk tugas, bukan untuk turisme, jadi gak sempet cari tahu tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi. Jadi jangan jadikan pengalamanku ini sebagai acuan mengenai Filipina, khususnya Manila. It's just a share of my experience while I was there.
Seperti pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang. Mungkin seperti itu yang saya rasakan pada waktu itu. Mungkin kalau saya sudah berkali-kali ke sana baru saya merasakan enaknya tinggal di sana.
Tapi seperti pepatah itu bilang, semakin sering saya mengunjungi tempat-tempat lain di negara yang berbeda, semakin saya mengenali Indonesia dan semakin saya sayang dengannya, terutama, makanan, orang-orangnya (tidak termasuk koruptor dan para politikus busuk lho...hehehehe...abis mereka bikin rakyat Indonesia tercinta ini jadi sengsara dan tambah miskin) dan daerah-daerahnya...
I love Indonesia....mmmmuuuuuaaaahhhh













