Friday, June 24, 2005

Oleh-oleh dari Manila, Part 3 (campur-campur-habis)

Postingan kali ini mau ngomongin macem-macem soal Manila, khususnya sih di tempat-tempat yang aku datengin. Kayak Manila Bay, Green Belt, Mega Mall, Intramuros, dll.

So, secara garis besar Manila itu gak jauh beda sama Jakarta. Tapi di beberapa tempat kayak di Jakarta tahun 80-an. Banyak rumah-rumah tua dan kumuh (Jakarta dulu kumuh gak sih? kayaknya malah rapian dulu yee...:P ). Berjalan-jalan di trotoar di kota Manila, anda harus siap-siap sapu tangan atau tissue. Sapu tangan atau tissue? untuk apa? untuk nutupin hidung anda...kenapa coba harus ditutupin? Karena sering sekali aku mencium bau urine (maksudnya bau pesing gitu lho :P) waktu jalan-jalan di trotoar kota Manila.

Di Jakarta memang masing suka kita cium bau pesing di sudut-sudut jalan, tapi kan tidak terlalu sering. Nah di sana tuh sering banget nyium bau pesingnya....ternyata warga Jakarta lebih sadar lingkungan daripada warga Manila (atau karena sekarang banyak bisnis WC umum ya di Jakarta :-D).

Dan seperti Jakarta, di Manila juga banyak pengemis dan gelandangan. Salah satu temen Pinoy pernah bilang, sebelum dia mengantar kami jalan-jalan, bahwa Manila sama seperti kota besar di negara berkembang lainnya, banyak pengemis dan gelandangan. Dan memang benar sih, selama perjalanan, pemandangan rumah kumuh, padat, dan para pengemis serta gelandangan banyak ditemui. Malah di suatu lapangan ada acara charity dari sebuah gereja untuk para gelandangan dan banyak sekali orang yang berkumpul.

Jadi waktu workshop di Manila kemarin, ada satu hari di mana kita diberi kesempatan untuk jalan-jalan. Dan berdasarkan rekomendasi teman kantor dan juga teman pinoy, kami akhirnya pergi ke Intramuros (Walled City), yaitu sebuah kota yang dikelilingi benteng, mirip dengan yang ada di Yogyakarta (kota dalam benteng). Intramuros ini berada di Old Manila, yang katanya merupakan cikal bakal dari kota Metro Manila. Dulunya merupakan kota yang dipagari oleh benteng yang tebal.
Image hosted by Photobucket.com
Ini gerbang Intramuros
Image hosted by Photobucket.com
Me and my friends inside Intramuros

Dan di dalam Intramuros ini memang kental sekali nuansa Eropa (dulu Filipina adalah jajahan Spanyol). Ada jalan yang dibuat dari batu-batu seperti yang pernah aku lihat di Brussels. Lalu arsitektur bangunan-bangunannya juga seperti bangunan-bangunan di Eropa. Di Intramuros inilah aku melihat sebuah rumah yang dijadikan museum. Rumah itu dulunya adalah milik pejabat tinggi pada masanya. Masuk ke dalam museum itu, seperti masuk ke dalam mesin waktu. Semua barang-barang, peralatan dapur, kamar mandi, dll, yang ada di dalamnya berasal dari jamannya. Menarik sekali, sayang kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar di sana. Hanya boleh mengambil gambar di luar ruangan.

Ini museum tampak dari jalan. Lihat jalanannya, dari batu kan? ;)
Image hosted by Photobucket.com
Di belakang lt.2 Museum

Oh ya...pedicab yang kemarin aku sempat sebutkan dalam postingan sebelumnya adanya di Intramuros ini.

Sebetulnya banyak tempat menarik di Old Manila ini, tapi karena waktunya sedikit, kami gak sempat keliling ke tempat lainnya. Pulang dari Intramuros kami makan di Manila Bay. Sebuah tempat di tepi laut yang cukup menarik. Dan ternyata di sana ada sebuah Kasino yang besar. Btw, perjudian di Filipina memang dilegalkan di tempat-tempat resmi ya seperti tempat judi yang ada di Manila Bay ini. Yang datang ke kasino itu banyak juga lho, dan mereka bermobil mewah. Kami sih gak masuk ke kasino itu, tapi memilih makan malam di sebuah floating restaurant (di atas kapal) di mana mereka nyajikan makanannya lamaaaaaaa banget....sampe mau masuk angin. Soalnya angin besar dan sudah malam. Ternyata lamanya itu karena mereka mengantarkan makanannya tidak mau satu persatu, tapi sekaligus semua makanan yang dipesan oleh rombongan kami. Bagus juga sih makannya bareng-bareng...tapi kelamaan nunggu, kembung bo!

Image hosted by Photobucket.com
Ini tempat kasino di Manila Bay, besar kan?
Namanya juga Jumbo Casino....:p


Kalau mengenai harga-harga di Manila, sebetulnya hampir sama dengan harga-harga di Jakarta, tapi memang ada beberapa barang yang harganya lebih murah di Manila. Makanan contohnya, harganya sedikit lebih murah dibandingkan harga makanan restoran di Jakarta. Harga angkutan umum juga relatif murah. Mungkin karena sama-sama negara berkembang kali ya. Dan ternyata di sana juga marak DVD dan CD bajakan...hehehe...ternyata hobinya sama...membajak, abis gimana dong...murah seh....

Oh iya...di Manila itu banyak banget mall-mall. Gak beda jauh sama Jakarta, tapi di sana lebih banyak lagi...di kota-kota tertentu dalam jarak beberapa kilo saja kita sudah bisa ketemu dengan 3-4 mall. Di deket tempat menginapku juga ada satu mall kecil. Satu kilo dari situ ada satu mall yang katanya mall terbesar di asia tenggara, namanya Mega Mall. Dan memang, mall itu sangat besar....kalo ngelilingin mall itu bakal gempor deh kaki...Dan seperti mall pada umumnya, Mega Mall juga ramai dikunjungi baik oleh orang lokal ataupun turis. Di sebelah Mega Mall ada Shangrilla Mall. 10 menit naik taksi dari Mega Mall, ada kawasan yang dinamakan Green Belt, yang ini juga kawasan Mall, tapi sedikit lebih elit dari mall lainnya karena letaknya di kawasan bisnis. Kayaknya pantas kalo Manila itu disebut kota seribu mall hehehehe...soalnya sejauh mata ini memandang kok mall melulu. Oh iya karena di Filipina juga (katanya) marak dengan terorisme, jadi setiap masuk mall, ada pemeriksaan tas, bahkan di Mega mall ada pemeriksaan tubuh, tentu saja pemeriksaan dilakukan sesuai dengan jenis kelaminnya :p (maksudnya yang laki-laki dengan laki-laki yang perempuan dengan perempuan).

Udah gitu, orang-orang berjilbab cenderung dicurigai, karena di Filipina itu orang muslim dianggap potensial teroris...sedih banget...hiks..hiks...padahal Islam kan agama yang damai.....karena takut ditangkep ma polisi...so aku gak berani foto-foto di sembarang tempat karena takut disangkain teroris yang sedang merencanakan pengeboman (seperti kasus yang di central station....huaaa....pengen nangis kalo inget kejadian itu....emang tampang manis dan lugu gini ada tampang teroris ya.....)

So...tiga postingan mengenai Manila ini hanyalah first impression dari orang yang baru pertama kali ke sana. Dan karena ke sananya untuk tugas, bukan untuk turisme, jadi gak sempet cari tahu tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi. Jadi jangan jadikan pengalamanku ini sebagai acuan mengenai Filipina, khususnya Manila. It's just a share of my experience while I was there.

Seperti pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang. Mungkin seperti itu yang saya rasakan pada waktu itu. Mungkin kalau saya sudah berkali-kali ke sana baru saya merasakan enaknya tinggal di sana.

Tapi seperti pepatah itu bilang, semakin sering saya mengunjungi tempat-tempat lain di negara yang berbeda, semakin saya mengenali Indonesia dan semakin saya sayang dengannya, terutama, makanan, orang-orangnya (tidak termasuk koruptor dan para politikus busuk lho...hehehehe...abis mereka bikin rakyat Indonesia tercinta ini jadi sengsara dan tambah miskin) dan daerah-daerahnya...

I love Indonesia....mmmmuuuuuaaaahhhh

Thursday, June 23, 2005

Oleh-oleh dari Manila, Part 2 (Transportasi)

Oke...dalam postingan sebelumnya, aku sudah ceritain sedikit mengenai makanan Filipina (khususnya yang ada di Manila). Sekarang aku mau cerita sedikit mengenai transportasi di Manila.

Pertama, kali berkenalan dengan kendaraan umum di Manila adalah saat dari bandara menuju penginapan. Dan kendaraan umum yang paling ada di setiap negara adalah taksi! Sebelumnya panitia workshop sudah inform soal taksi apa saja yang aman. Dan waktu di pesawat juga, teman sebangkuku (a pinoy) ngasih tahu bahwa taksi di Manila itu nakal-nakal, ada yang mainin argo atau kalau tahu kita itu pendatang, mereka akan ajak kita muter-muter (mengingatkanku pada taksi di Jakarta, atau mungkin di negara lain juga begitu kali ya???).

So, aku memesan taksi lewat agen resmi. Jangan membayangkan bisa mendapat taksi yang mulus di Manila (kayak di Jakarta kan taksi mobilnya baru-baru, macam Toyota Vios gitu). Di sana taksinya mobil tua semua, tapi setelah keluar dari Bandara, gak cuma taksinya sih yang tua, bisnya juga, dan seperti Indonesia, Filipina kayaknya juga jadi tempat pembuangan bis-bis kota yang lama dari negara maju macam Jepang dan Korea Selatan. Biskota dan luar kota di sana tua-tua semua. Dan yang juga menarik perhatian adalah kendaraan umum yang bernama Jeepney, Tricycle dan Pedicab.

Jeepney itu angkotnya Manila. Mobilnya berbentuk mobil kijang tapi lebih panjang dan besar. Menurut sejarah, awal munculnya jeepney adalah pada perang dunia ke-2 saat tentara amerika yang dulu punya base camp di Filipina pulang kampung dan meninggalkan banyak mobil jeep mereka di sana dan juga ada kelebihan produksi mobil jeep untuk para tentara. Oleh orang Filipina, mobil bekas itu disulap jadi kendaran umum yang kemudian dalam perjalanannya perubahan itu menjadi inspirasi untuk memproduksi sebuah angkutan umum yang murah meriah dengan merubah bahan bakarnya menjadi solar dan merubah bentuknya menjadi lebih besar. Dan satu lagi yang menarik soal jeepney. Tidak ada yang satu jeepney yang benar-benar sama dengan yang lainnya. Semuanya unik, karena dihias sesuai dengan keinginan si pemilik. Kalau pemilik mempunyai jiwa artistik yang tinggi, maka hiasan jeepneynya juga akan meriah dan sangat menarik, tapi kalau tidak punya jiwa seni...ya jeepneynya biasa-biasa saja. So melihat jeepney di jalan-jalan merupakan pengalaman tersendiri.

Naik jeepney bisa jadi pengalaman yang seru, karena panjangnya mobil itu, menyebabkan goyangan yang ditimbulkan oleh mobil itu cukup keras...pernah naik bajaj kan...nah goyangannya lebih keras lagi hehehe belum lagi penumpang yang duduk berdesakan...bukan hanya dengan sesama penumpang, tapi juga dengan barang bawaan penumpang (persis dengan mobil colt yang ke puncak itu, tapi di jeepney duduknya berhadapan kayak di angkot)

Mau tahu bentuk jeepney? Ini fotonya....

Jeepney tampak samping
Image hosted by Photobucket.com
Jeepney tampak depan
Image hosted by Photobucket.com
Jeepney tampak belakang
Image hosted by Photobucket.com
Me in the jeepney
Image hosted by Photobucket.com
Penumpang jeepney, bertahan dari goyangan...

Kendaraan umum lainnya adalah tricyle itu mirip becak bermotor yang ada di Medan, tapi bentuknya lebih ramping lagi. Kendaraan ini aslinya adalah motor biasa tapi diberi tambahan kursi di samping motornya. Penumpang yang bisa dibawa oleh kendaraan umum ini maksimal empat orang, belum termasuk supir. Jadi di kursi tambahan tiga orang dan di belakang supir satu orang! Kendaraan ini hanya boleh beroperasi di jalan-jalan kecil, tidak boleh masuk di jalan utama (begitu juga dengan jeepney, ada jalan-jalan di mana tidak boleh ada jeepney, hanya bis besar, taksi dan kendaraan pribadi)
Image hosted by Photobucket.com
Ini tricycle...tampak samping

Kendaraan lainnya yang juga unik dan tidak boleh beroperasi di sembarang tempat adalah pedicab. Bentuknya hampir sama dengan tricycle, tapi tenaga penggeraknya adalah manusia. Jadi ini adalah transformasi lain dari becak Indonesia hehehe...mungkin kalau becak di Indonesia modelnya seperti ini, tidak akan ada larangan mereka untuk beroperasi kali ya.
Image hosted by Photobucket.com
Kalau yang ini namanya pedicab

Ada yang bagus dari kota Manila, yaitu MRT-nya atau kalau di Indonesia namanya KRL. Yang membedakan antara MRT Manila dan KRL di Indonesia adalah MRT mereka lebih bersih dan ber-AC. Tapi menurut cerita salah satu temen Pinoy, pada jam-jam sibuk, MRT juga sangat penuh, walau gak sampai ada yang naik ke atas kereta kayak di Indonesia, karena dilarang sama pemerintah (emang di Indonesia gak dilarang apa? cuma aja penumpang di Indonesia lebih berani nekat :-P ). Aku sempet ngerasain naik MRT ini, dan memang lebih nyaman daripada KRL di Indonesia. Ada beberapa jalur MRT di Manila yang menghubungkan kota satu dengan lainnya, tapi mereka mempunyai stasiun yang saling berhubungan, jadi kalau mau pergi ke salah satu kota, bisa naik di stasiun mana saja dan nanti transit di stasiun yang menghubungkan.
Image hosted by Photobucket.com
Di stasiun MRT di wilayah Edsa
Image hosted by Photobucket.com
MRT di Manila

Oh ya satu lagi cerita yang menarik waktu ngambil gambar di stasiun. Ceritanya aku mau foto-foto sama temen-temen di Central Station, eh tiba-tiba kami di'priwitin' sama petugas keamanan dan dilarang ngambil gambar di sana (untung sempet foto MRT-nya). Usut punya usut, ternyata stasiun itu pernah jadi sasaran bom (yang katanya dari kalangan muslim....sigh...kenapa sih kita dicurigain).

Sejak kejadian itu, aku jadi takut untuk ambil foto dari tempat-tempat yang sensitif, seperti gereja atau gedung-gedung pemerintahan...ntar kite disangka teroris yang lagi ngerencanain penge-boman lagi....huaaaaaa....tatut...

So, itu adalah sebagian cerita mengenai transportasi yang ada di Manila. Selama di sana aku sempet nyobain rasanya naik jeepney, tricycle dan MRT. Pengalaman yang sangat menarik. Ada satu catatan...gak di Manila gak di Jakarta...macet mah tetep...tapi jalan di Jakarta setidaknya lebih rapi. Jalan di dekat penginapanku itu ada yang tingkat tiga. Jalan di bawah untuk mobil, diatasnya kereta, trus di atasnya lagi ada jalan raya untuk mobil....pusing gak seh.....

Bersambung lagi ya.....

Wednesday, June 22, 2005

Oleh-oleh dari Manila, Part 1 (Makanan)

Pada postingan lalu, aku sempet singgung bahwa aku pergi ke Manila (20-25 Mei 2005). Tujuanku ke sana adalah untuk ikutan workshop (training for trainers) mengenai secure computing. Eits...tunggu dulu, aku ikutan ini bukan berarti sudah sangat 'gape' soal komputer ya...justru ikutan workshop ini karena aku kepingin tahu lebih banyak soal keamanan berkomputer.

Info mengenai workshop ini aku dapat dari teman yang kukenal waktu ikutan women's electronic network training (Agustus 2002) sebuah pelatihan mengenai bagaimana memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk beradvokasi. Yup...itulah enaknya bekerja di ornop, bisa mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan, dengan dibayarin (alias gratis).

Anyway...tadinya aku sempet gak pede untuk mendaftar workshop yang di Manila, karena dari judulnya saja sudah membatasi pesertanya untuk para trainer, dan ada sedikit masalah pendanaan di kantorku. But what the hell...ku isi saja formulir pendaftarannya, lagian nanti akan ada penggantian untuk tiket pesawat dan akomodasi ditanggung panitia. Dan ternyata...diterima aplikasinya! Alhamdulillah! Trus ternyata kantor juga ngijinin...wah rejekiku nih...akhirnya setelah perjuangan mengurus pasporku, aku bisa juga berangkat ke Manila.

Anyway...aku bukan ingin cerita tentang workshop itu (but I can assure you that the workshop was very interesting). Yang ingin aku share di sini adalah mengenai Manila...tidak secara detil mengenai kota tersebut, tapi pengalamanku selama di sana.

Sebenarnya agak berat hati juga untuk berangkat ke sana, karena ini pertama kalinya aku harus meninggalkan Rakan sejauh dan selama itu, tapi ini kesempatan buatku untuk menambah pengetahuan dan suamiku juga mendorong supaya aku ikutan workshop itu. Akhirnya hari keberangkatan datang juga. Aku berangkat ke sana naik Phillipines Airlines (soalnya mau naik SQ atau MAS gak dikasih ama panitia...kemahalan hehehe, dah gitu harus nginep satu malam di tempat transit, aku gak mau ninggalin Rakan lama-lama). Dapat penerbangan jam 06.10 pagi bo!!! Itu berarti aku harus berangkat dari rumah dari jam 04.30. dan harus bangun jam 04.00. Phiuuuhhh..gak sari-sarinya bangun pagi kayak gitu :-D.

Manila, ibukota dari Filipina yang sebetulnya terdiri dari beberapa kota lainnya (seperti Jakarta, yang juga terbagi menjadi 5 wilayah kota-walikota). Manila terdiri dari 17 kota yaitu Manila City, Quezon City, Calookan City, Pasay City, Pasig City, Makati City, Mandaluyong City, Marikina City, Valenzuela City, Muntinlupa City, Paranaque City, Las Pinas City, Malabon City, Navotas, Taguig, Pateros, San Juan (banyak kan kotanya hehehe :D)

Pertama kali mendarat di Manila, yang terbayang kota itu lebih maju dan lebih bagus dari Jakarta, ternyata....(IMHO) Jakarta jauh lebih bagus dan rapi dibandingkan Manila (khususnya di tempat aku menginap). Aku menginap di Mandaluyong City. Menurut bacaan kota ini salah satu kota yang baru saja 'muncul' (maksudnya menjadi sangat berkembang), yang menjadi 'macan baru' di Metro Manila.

Dulu, katanya, kota ini merupakan rawa-rawa dan kota yang tidka berkembang, lalu datang para investor dan konglomerat dengan duit dan bisnisnya, jadilah Mandaluyong seperti sekarang ini.


kalo difoto keliatan rapi kan? Pinter nih fotografernya :-P, aslinya lebih semrawut lho

Panitia menyiapkan akomodasi buatku di Hotel Legend Villa, 60 Pioneer St. Corner Madison Sts. Sebuah hotel yang lumayan baru, tidak terlalu besar tapi cukup bagus (soalnya temenku yang sudah bolak-balik ke Manila bilang dia selalu dapat hotel tua, I was lucky :-P!)

Berhubung orang Filipina itu pemakan segala (that means they eat ham and bacon), aku jadi musti hati-hati. Menu makan pagi favoritku di hotel itu adalah nasi goreng bawang putih (garlic rice) plus telur omelet (tiap pagi bo! makan kayak gitu).

Ngomongin soal makanan dan orang Filipina, ada satu artikel menarik yang aku baca saat di pesawat (aku sempet ngambil majalahnya pas pulang, tapi ternyata halaman yang ada artikel itu dah disobek orang huaaaaa :((, padahal dah diem-diem ngambilnya hehehehe....emang kagak boleh ngutil di pesawat yeee...). Intinya si penulis artikel itu bilang bahwa selera makan orang Filipina itu gila-gilaan. Dia bilang, Pinoy (istilah buat orang Filipina) itu memang jadwal makan utamanya seperti kebanyakan orang lainnya, sarapan, makan siang dan makan malam. Tapi di sela-sela jadwal makan utama itu mereka juga ngemil...jadi total keseluruhan makan Pinoy itu 8 kali sehari! Pasti mikir kenapa ngemil itu diitung makan juga oleh si penulis artikel. Mau tau gak apa yang disajikan sama hotel untuk coffee break, spageti + garlic bread yang porsinya sama untuk makan utama!!! Pertama ngeliat, peserta workshop (selain pinoy) kaget semua hehehehe...gimana gak, abis makan siang kok cemilannya kayak gitu. Tapi para pinoy bisa ngabisin itu cemilan...hebat kan :P, kita-kita cuma bisa kenyang ngeliatin mereka makan. Trus artikel itu juga bilang...setelah makan malam pinoy itu akan ada midnight supper...! Tapi sedikit sekali pinoy yang gemuk (yang aku kenal)

And speaking about the food, maksudnya rasa dari makanan itu sendiri, temenku yang udah pernah ke sana juga kasih warning bahwa makanan mereka itu tasteless....Pendapatku...tidak tasteless kok...tapi apa-apa rasanya manis! So what's wrong with that? Aku sebagai orang Jawa, memang suka masakan manis, tapi ini mah keterlaluan. Waktu makan di KFC, trus minta chillie sauce...yang dikasih sih chillie sauce, tapi tahu gak rasanya, manis! Jangan harap bisa nemuin saus sambel kayak yang ada di Indonesia. Pinoy gak suka makanan yang pedas dan spicy.

So, untungnya daku bawa bekal sambel sendiri....tapi lama-lama aku coba nikmatin aja makanannya...trying to survive gitu lho (lagian salah bawa sambel, bawa sambel flores...pedesnya minta ampun...sampe-sampe *** panas kalo *** -- sensor :P )...Oh iya...untungnya ketua panitia workshopnya vegetarian, jadi banyak menu sayurannya...so gak perlu khawatir gak bisa makan. Btw...selama di sana untuk berjaga-jaga...aku selalu mesen menu seafood...(untung kagak alergi ma seafood)

Oh ya...kalo nanti anda ke Filipina (Manila khususnya) kalo pesan makan untuk berdua, cukup satu porsi saja, soalnya biasanya di restoran-restoran di sana satu porsi itu ukurannya cukup besar (khususnya sih buat aku!). Ini menu makan malam yang aku pilih sewaktu ditraktir makan malam sama panitia.
Image hosted by Photobucket.com
Prawn in marinated sauce....rasanya enak, tasty karena di restoran Thailand :P

Image hosted by Photobucket.com
umbrella above my seat....beautiful isn't it ;)?

Nah satu lagi bukti kalo Pinoy itu jago makan adalah waktu makan malam perpisahan. Ceritanya kita ditraktir di restoran all you can eat yang terdiri dari tiga restoran (Jepang, lokal dan Eropa). Aku dah KO duluan padahal baru nyobain satu menu....(main course+dessert), tapi Pinoy....bisa bolak-balik sampe enam kali lebih! (belum termasuk dessert)...hebat...hebat....(kagum sambil geleng-geleng kepala)
Image hosted by Photobucket.com
ini foto waktu ditraktir makan all you can eat...
lihat perut gue kekenyangan gak :-P


Oh ya ada satu makanan Pinoy yang aneh tapi nyata. Namanya Balut (mau tahu apa lebih lanjut apa itu Balut klik di sini). Balut itu telur bebek yang sudah setengah jadi (maksudnya dah ada bentuk anak bebeknya, paruh, bulu, dsb) yang direbus. Balut ini banyak dijual di pinggir-pinggir jalan (kayak orang jual gorengan di sini). Gila yeee...makan telur yang udah jadi anak bebek bo! Kebayang gak seh.....Tapi bagi pinoy, balut ini makanan yang biasa mereka makan. Sampe-sampe penulis artikel (yang ada di majalah Philippines Airlines) bilang, kalau dia udah bisa makan ini balut, pemerintah Filipina mesti ngeluarin paspor buat dia, karena itu berarti dia sudah resmi jadi pinoy.

Trus ada lagi, bagoong....nah yang ini tuh shrimp paste (kayak terasi gitu). Dan biasanya disajikan bareng sama potongan buah (yang pernah aku cobain sih mangga muda sama bagoong). Rasanya bagoong ini memang persis kayak terasi, tapi kalo di Indo, kan terasinya diolah dulu jadi sambel rujak...jadi gak gitu terasa terasinya...
Image hosted by Photobucket.com
Ini restoran yang nyediain mangga muda + bagoong sebagai makanan pembuka.Restoran ini di atas perahu lho...sempet mau mabuk laut, karena anginnya kenceng dan perahu jadi goyang-goyang...:P

Pokoknya banyak lagi makanan yang aneh-aneh deh di sana, yang menurut si penulis artikel 'menakjubkan' (kayak darah babi yang dibekukan, usus sapi, mata kambing, dll). Tapi dari sekian banyak makanan tradisional Filipina, ada satu yang aku suka....Dried Mango...enak banget seh...bisa ngabisin satu kantung sendirian kalo lagi gak inget ma sodara dan temen...hehehehe...

Cerita lainnya bersambung ya....soalnya kepanjangan kalo mau ditulis semuanya di sini...

Monday, June 06, 2005

Perjuangan membawa berkah

(*For my fans out there yang udah gak sabar baca postinganku...sorry for the delay....hehehehehe)

Beberapa minggu lalu aku pusing. Aku harus membuat paspor baru karena paspor lamaku terbakar saat terjadi kebakaran di rumahku. Ternyata mengurus paspor yang hilang bukan suatu proses yang mudah. Cukup rumit buatku, dan begitu banyak birokrasi yang harus dilalui. Hampir-hampir aku frustasi, tapi aku harus mengurus paspor baruku itu karena aku akan gunakan untuk pergi ke Manila, Filipina, untuk menghadiri sebuah workshop.

Waktu pertama kali aku datang untuk mengurus pasporku, aku sudah merasa yakin bahwa aku sudah mempunyai semua dokumen pendukung yang aku punya. Saat itu aku berpikir bahwa mengurus paspor yang hilang sama mudahnya dengan mengurus paspor baru. Tapi bukan itu kenyataannya saudara-saudara! Aku diharuskan membuat berita acara perkara mengenai kehilangan itu, di kantor imigrasi. Ternyata, surat keterangan polisi yang menyatakan bahwa pasporku benar-benar hilang karena kebakaran tidak berlaku. Aku juga harus mempunyai surat keterangan dari RT, RW dan Kelurahan. Belum cukup sampai di situ, aku juga harus mendapatkan persetujuan untuk mendapatkan paspor baru dari kantor wilayah departemen kehakiman dan HAM...aduuuhhh (*garukgarukkepalakarenapusingdankesel). Kenapa sih orang berniat baik mengurus sesuai jalur, tapi susah banget. Padahal kalo aku mau (dan kalau punya duit juga sebetulnya sih :-P) bisa lho lewat biro jasa gitu lho.....tapi aku pengen mengurusnya melalui jalur yang resmi....dengan mengikuti semua prosedurnya (ciyeee).

Jadi inget pengalaman temenku yang menikah dengan orang asing. Sulit buat dia mengurus visa tinggal buat suaminya. Padahal sang suami sangat ingin tinggal dan bekerja di sini. Menurut peraturan sih sebetulnya dia bisa mendapatkan ijin tinggal untuk setahun penuh. Tapi lagi-lagi...hidup di negara yang penuh dengan intrik dan korupsi....ijin itu bisa didapat kalau temanku itu mengurus pada orang dalam dengan biaya tertentu (yang sudah pasti beberapa kali lipat dari harga resmi!). Terang aja temenku kesal, dan akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang ijin tinggal suaminya itu.....(huhuhuhuhu.....i miss her....ampuni petugas itu ya Allah...) Gak sadar apa ya...kalau uang itu nantinya akan digunakan untuk anak dan istrinya....uang haram gitu lho!!!



Back to my case....akhirnya...Allah memang Maha Adil.....orang baik ini (si wiwit tentu aja hehehehe) ditolong oleh orang baik lainnya. Ternyata di tempat seperti itu (yang bisa dibilang sarang korupsi) masih banyak orang baiknya....(sebetulnya mungkin karena dia tidak tega melihat tampang memelasku yang sudah kehabisan waktu untuk mendapatkan paspor barunya) bayangin...tinggal tiga hari lagi keberangkatan ke Manila, pasporku belum jadi. Eh ya itu tadi...(terima kasih kepada bapak petugas di loket 2 yang sudah melancarkan jalan saya untuk mendapatkan paspor baru saya), karena daku menyebutkan bahwa daku ini bekerja di sebuah LSM....beliau langsung membantu dan walaa......pasporku jadi dalam waktu satu hari semenjak aku foto dan sidik jari.....(hihihih...tuh bapak takut kali yee kalo berhadapan dengan orang LSM...padahal kita orang baik.....bener deh pak...baik, tidak sombong, jagoan lagi pula pintar...hehehehe)...

Alhamdulillah....setelah kehujanan 2 kali, kebanjiran 4 kali, dan kebakaran 1 kali (kagak mau lagi dah!!!) pasporku jadi tepat waktu...satu hari sebelum keberangkatan...jadi juga deh aku berangkat ke Manila....kesempatan ini sudah lama aku tunggu-tunggu...kesempatan untuk menambah pengetahuan dan menambah teman-teman. Dan materi yang aku dapatkan selama mengikuti workshop itu juga sangat berguna buat lembaga di mana aku bekerja saat ini....kesempatan tidak datang dua kali....tapi kalo memang datang dua kali....berarti itu kan emang rejekiku...ya gak seh....hehehehe....Subhanallah, Alhamdulillah yang telah memberikan aku kesempatan untuk bisa lebih tahu dan lebih terbuka pandangannya. Semoga aku bisa membagi ilmu yang aku dapatkan ini ya Allah...dan semoga pengetahuan ini berguna untukku dan orang-orang di sekitarku, amiiin.


(ini bukan fotoku lho........:-P)



p.s. cerita mengenai Manila will be posted later on....masih sibuk euuyy...