Wednesday, May 04, 2005

Pulang kampung + Honey moon

Seminggu yang lalu aku cuti dari kantorku (22 - 28 April)....mau ke Yogya (Gunung Kidul to be exact!) karena ada urusan keluarga sekaligus manfaatin libur panjang. Maunya sih pulang kampung sekaligus honeymoon (which I never had since we married) with my hubby. Tapi yang ada malah ribet...soalnya persiapannya yang mepet. Ternyata susah cari penginapan di Yogya kalo pas lagi libur panjang (ya iya lah...where have I been?!). Anyway...it was an interesting holiday....cerita lengkapnya nanti aja ya setelah foto-foto waktu di sana dah aku download...tapi berhubung lagi ada masalah dengan memory card camdig ku...jadi belum bisa didownload deh....hiks..hiks...mudah-mudahan fotonya gak ilang....

Perpisahan...

Perpisahan buatku adalah sebuah moment yang dapat membuatku terharu atau sedih. Perpisahan yang baru-baru ini terjadi padaku adalah "perpisahan" dengan anakku. Perpisahan yang aku maksud di sini bukanlah perpisahan dalam arti harfiah yang sesungguhnya. Perpisahan yang aku maksud adalah soal menyapih ASI buat anakku yang saat ini hampir berumur dua tahun. Sabtu malam lalu (30 April 2005) seperti biasa Rakan minta disusui, tapi saat itu dia lebih banyak menggigit daripada menyusunya. Aku sempet secara reflek mencubit pipinya saat dia menggigit, dan itu membuatnya menangis. Lalu aku tegur dia untuk tidak menggigit, tapi tetap saja dia menggigitku. Aku meninggikan nada bicaraku, supaya dia tahu bahwa aku tidak suka dengan perbuatannya. Rakan memang menghentikan gigitannya, tapi kemudian dia tidak mau menyusu lagi. Entah karena dia marah denganku atau karena memang sudah saatnya dia berhenti minum ASI.

Sebenernya rencana untuk menyapih Rakan memang direncanakan pada saat-saat ini. Tapi membayangkan bahwa aku akan kehilangan rasa 'ketergantungan' dari Rakan membuatku sedih. Selain itu aku juga tidak tega membayangkan jika aku harus menolak permintaannya menyusu, pasti dia akan menangis-nangis. Kejadian di atas sebetulnya membantuku menyapih Rakan, tanpa membuat Rakan harus merengek-rengek minta susu, tapi ternyata itu tetap membuatku sedih sewaktu Rakan tidak lagi mau menyusu.

Aku sedih karena aku merasa kehilangan keistimewaanku untuk Rakan, aku juga takut akan kehilangan ikatan batin dengan anakku itu, takut anakku tidak lagi merasa membutuhkanku. Aku merasa seakan-akan aku akan berpisah dengannya. Tapi setelah beberapa hari ini berjalan, ternyata ketakutanku itu tidak beralasan. Rakan tetap membutuhkanku, ia tetap mencariku jika aku tidak ada, Rakan tetap merasa bahwa aku istimewa (setidaknya itu yang aku rasakan).

Nak, memang sudah saatnya kamu berhenti menyusu pada ibumu ini. Bagimu, tahapan itu sudah harus kamu lewati, saatnya kamu melangkah ke tahap selanjutnya nak....hanya saja ibumu ini ternyata masih belum percaya bahwa kamu telah tumbuh menjadi besar. Masih terbayang di pelupuk mata, saat pertama kamu diperlihatkan pada ibumu ini nak....you're so helpless...so cute...seluruh rasa sakit yang ibu rasakan sewaktu berjuang untuk mengeluarkanmu dari perut ibu hilang musnah saat ibu melihat muka mungilmu....

Rakan, semoga saja nanti kamu bisa menjadi anak yang sholeh, bertaqwa kepada Allah SWT, menjadi anak yang cerdas dan pandai. Semoga saja air susu ibu yang selama hampir dua tahun ini meresap dalam darah dan dagingmu dapat membantumu untuk tumbuh menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang di sekitarmu. Ibu dan Ayah sangat mencintaimu nak....tumbuh dan besarlah...dan jadilah seorang yang membela agama dan orang kecil. Amiin....