So...aku kabarin my best friend, who I know use to receive translation order, dan dia bilang bersedia datang. Aku ingin dia juga mendapatkan pengetahuan dari pertemuan itu. Tapi ternyata waktu hari H-nya dia gak bisa datang, karena malas meneleponku untuk konfirmasi (dia kirim sms untuk bertanya, tapi aku baru cek setelah aku dalam perjalanan ke pertemuan itu). Well....sebetulnya aku sangat kecewa dengan hal itu. Alasannya itu yang aku kurang bisa terima.
Anyway....I am not complaining about her. Aku ingin menggarisbawahi sebuah pernyataan yang aku dapatkan sewaktu pertemuan itu. Ada suatu pernyataan yang sangat menarik dari pertemuan itu.
Translating, he said, is a process of transforming a message from A language to B language by restructuring the message into the targeted language. Interesting don't you think?
Jadi dia bilang menterjemahkan adalah sebuah proses dari menerjemahkan pesan dari bahasa A ke Bahasa B dengan menstruktur ulang pesan ke dalam bahasa yang dituju. Dia juga menekankan bahwa proses menterjemahkan itu bukan hanya dilakukan dengan pendekatan linguistik semata tapi juga harus dengan pendekatan sosio linguistik dan psiko linguistik. Karena tanpa ketiga elemen itu, hanya akan menghasilkan sebuah kalimat yang kaku, atau bahkan mungkin mengaburkan pesan yang ingin disampaikan oleh bahasa aslinya. Dan pendekatan semacam itu hanya bisa dilakukan oleh manusia, sebagai makhluk diberikan kemampuan untuk melakukan analisis. Alat/software penterjemah tak akan mampu melakukan ketiga proses tersebut. Dia memberikan beberapa contoh menarik (dalam pertemuan itu membahas bagaimana menterjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Inggris dan sebaliknya)....misalnya begini, bagaimana menterjemahkan "boro-boro ngundang, ngasih tau saja gak, padahal saya sudah kenal lama dan deket sama orang itu". Dia biang kalau menggunakan mesin penterjemah hasil yang akan didapat adalah "hunting hunting invite, bla..bla..bla..". Dari awal saja sudah ada kesalahan. Dia bilang lagi kalo manusia yang menterjemahkan maka dia akan menganalisa sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan oleh kalimat itu....maka sebetulnya pesan yang ingin disampaikan adalah "He doesn't invite me at all, not even inform me, while actually he is quite close to me".
Menarik untuk direnungkan....adalah....menggunakan metode tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari....bagaimana menterjemahkan pesan yang ingin disampaikan orang kepada kita dari bahasa yang biasa dia gunakan ke bahasa yang kita biasa terima. Kadang dalam bahasa yang sama (dalam hal ini Bahasa Indonesia) sering kita salah dalam menterjemahkan pesan yang ingin disampaikan orang kepada kita, bisa disebabkan karena gaya bahasa yang berbeda....cara penerimaan kita yang berbeda.....atau...memang karena tulalit.
Kita juga bisa menerapkan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari, linguistik, sosiolinguistik dan psikolinguistik dalam menterjemahkan pesan yang ingin disampaikan orang kepada kita. Ini untuk meminimalisir kesalahan dalam menangkap pesan mereka, apalagi jika kita berbicara dengan lawan bicara yang berasal dari daerah yang berbeda, walaupun menggunakan bahasa Indonesia, tapi tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kesalahan dalam menangkap pesan jika kita tidak menggunakan ketiga pendekatan tersebut.
Well guys...it's up to you....but I think the meeting was enlightening for me....we as a human being are obligated to learn and learn and learn. You'll never know where you can learn something important or at least interesting for you, so never miss the opportunity to learn....look around and you will find many thing that you can learn from.
Keep on learning guys