Wednesday, April 20, 2005

Translating

Minggu lalu, aku mendapatkan sebuah pesan pendek di HaPe...isinya sebuah tawaran untuk mengikuti workshop mengenai cara mudah menulis dan menterjemahkan di sebuah gedung di kawasan Kebon Sirih. Acara ini diselenggarakan oleh sebuah lembaga pendidikan untuk penterjemah. Wah lumayan nih....aku tahu bahwa dalam workshop tersebut tidak akan diajarkan secara detil bagaimana caranya menterjemahkan, karena aku sadar untuk menterjemahkan kita membutuhkan pelajaran yang cukup panjang belum lagi proses pemahaman bahasa itu sendiri.

So...aku kabarin my best friend, who I know use to receive translation order, dan dia bilang bersedia datang. Aku ingin dia juga mendapatkan pengetahuan dari pertemuan itu. Tapi ternyata waktu hari H-nya dia gak bisa datang, karena malas meneleponku untuk konfirmasi (dia kirim sms untuk bertanya, tapi aku baru cek setelah aku dalam perjalanan ke pertemuan itu). Well....sebetulnya aku sangat kecewa dengan hal itu. Alasannya itu yang aku kurang bisa terima.


Anyway....I am not complaining about her. Aku ingin menggarisbawahi sebuah pernyataan yang aku dapatkan sewaktu pertemuan itu. Ada suatu pernyataan yang sangat menarik dari pertemuan itu.
Translating, he said, is a process of transforming a message from A language to B language by restructuring the message into the targeted language. Interesting don't you think?
Jadi dia bilang menterjemahkan adalah sebuah proses dari menerjemahkan pesan dari bahasa A ke Bahasa B dengan menstruktur ulang pesan ke dalam bahasa yang dituju. Dia juga menekankan bahwa proses menterjemahkan itu bukan hanya dilakukan dengan pendekatan linguistik semata tapi juga harus dengan pendekatan sosio linguistik dan psiko linguistik. Karena tanpa ketiga elemen itu, hanya akan menghasilkan sebuah kalimat yang kaku, atau bahkan mungkin mengaburkan pesan yang ingin disampaikan oleh bahasa aslinya. Dan pendekatan semacam itu hanya bisa dilakukan oleh manusia, sebagai makhluk diberikan kemampuan untuk melakukan analisis. Alat/software penterjemah tak akan mampu melakukan ketiga proses tersebut. Dia memberikan beberapa contoh menarik (dalam pertemuan itu membahas bagaimana menterjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Inggris dan sebaliknya)....misalnya begini, bagaimana menterjemahkan "boro-boro ngundang, ngasih tau saja gak, padahal saya sudah kenal lama dan deket sama orang itu". Dia biang kalau menggunakan mesin penterjemah hasil yang akan didapat adalah "hunting hunting invite, bla..bla..bla..". Dari awal saja sudah ada kesalahan. Dia bilang lagi kalo manusia yang menterjemahkan maka dia akan menganalisa sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan oleh kalimat itu....maka sebetulnya pesan yang ingin disampaikan adalah "He doesn't invite me at all, not even inform me, while actually he is quite close to me".

Menarik untuk direnungkan....adalah....menggunakan metode tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari....bagaimana menterjemahkan pesan yang ingin disampaikan orang kepada kita dari bahasa yang biasa dia gunakan ke bahasa yang kita biasa terima. Kadang dalam bahasa yang sama (dalam hal ini Bahasa Indonesia) sering kita salah dalam menterjemahkan pesan yang ingin disampaikan orang kepada kita, bisa disebabkan karena gaya bahasa yang berbeda....cara penerimaan kita yang berbeda.....atau...memang karena tulalit.


Kita juga bisa menerapkan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari, linguistik, sosiolinguistik dan psikolinguistik dalam menterjemahkan pesan yang ingin disampaikan orang kepada kita. Ini untuk meminimalisir kesalahan dalam menangkap pesan mereka, apalagi jika kita berbicara dengan lawan bicara yang berasal dari daerah yang berbeda, walaupun menggunakan bahasa Indonesia, tapi tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kesalahan dalam menangkap pesan jika kita tidak menggunakan ketiga pendekatan tersebut.

Well guys...it's up to you....but I think the meeting was enlightening for me....we as a human being are obligated to learn and learn and learn. You'll never know where you can learn something important or at least interesting for you, so never miss the opportunity to learn....look around and you will find many thing that you can learn from.

Keep on learning guys

Friday, April 15, 2005

ATM!

Apa yang ada di dalam pikiran anda jika mendengar istilah ATM? Pasti yang anda pikirkan adalah mesin teller otomatis tempat anda mengambil uang tanpa harus mengantri di Bank bukan? Tapi ATM buat supir taksi ternyata mempunyai kepanjangan sendiri. Aku sendiri baru tahu kemarin, sewaktu naik salah satu taksi Jakarta yang cukup terkenal.

Pertama kali mendengar istilah yang dikemukan oleh supir taksi itu, aku agak terkejut, lalu tertawa, lalu sedih. Aku terkejut karena tidak menyangka ATM mempunyai kepanjangan yang bertolak belakang dengan kepanjangan yang sesungguhnya ATM = Anjungan Tunai Mandiri (Automatic Teller Machine, bahasa londonya). ATM bagi sebagian supir taksi merupakan barter dari jasa mereka dengan penumpang (tidak semua penumpang katanya). ATM bagi supir taksi mempunyai kepanjangan dari Argo Tukar M**** (sensor dong ach....ntar blog gue diblack list lagi). Itu cukup mengejutkan buat saya (gak tau dengan anda, apakah anda juga cukup terkejut).


Saya tidak menyangka praktek macam itu sudah umum terjadi. Sang supir kembali menjelaskan siapa saja yang biasanya melakukan ATM itu. Dia bilang yang biasanya melakukan hal tersebut adalah PSK yang menurut istilahnya tidak mendapatkan "ikan" sehingga tidak punya duit untuk bayar taksi, padahal mereka gengsi untuk naik kendaraan umum lainnya. Jadilah mereka biasanya menawarkan ATM ini kepada sang supir taksi. Memang sih tidak semua supir taksi ini mau melakukan ATM ini, tapi ternyata ada juga yang meladeni hal tersebut.



Bagi supir yang tidak mau melakukan ATM ini, menurut sang supir lagi, biasanya PSK itu akan menggadaikan HP atau barang berharga lainnya kepada sang supir dengan janji bahwa mereka akan menghubungi sang supir untuk menebus kembali barang mereka. Kalau ternyata si PSK tidak menghubungi, jadilah barang-barang berharga itu milik sang supir yang bisa dijual untuk menutupi biaya taksi.

Aku sedih karena tidak menyangka hal tersebut bisa terjadi. Sedih membayangkan pergaulan anak jaman sekarang yang sebagian besar sudah begitu bebasnya. Khawatir mengenai bagaimana harus membentengi Rakan dari pergaulan semacam itu. Tugas orang tua saat ini sangat berat. Tidak hanya dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi, tapi juga dalam hal pemenuhan nilai-nilai moral dan spiritual. Semoga saja aku bisa memenuhi keduanya. Semoga saja aku bisa memberikan bekal yang cukup untuk anak-anakku supaya mereka tidak tergelincir dalam kekhilafan. Tolong aku ya Allah.......

Tuesday, April 05, 2005

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Apakah kita semua, benar-benar tulus menyambah padaNya?
Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga

Reff:
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?

Bisakah kita semua benar-benar sujud, sepenuh hati?
Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah, memang pantas dipuja..

song by Chrisye, lyrics by Ahmad Dani



Pertama kali mendengar lagu itu, aku merasa tidak ada yang istimewa, saat itu aku merasa itu hanya salah satu dari lagu Chrisye (lagu ini juga kolaborasi dari Ahmad Dani--pentolan grup band DEWA. Tapi beberapa hari yang lalu...lagu itu membuatku 'merinding' (not in negative way lho ya). Memang waktu mendengarkan lagu itu terakhir kali, aku dalam keadaan tenang (lagi ngelonin anak bo!). Sayup-sayup dari luar kamar, aku dengar lagu itu diputar di salah satu stasiun tv swasta. Dan aku baru merasa, bahwa lirik lagu tersebut begitu dalam maknanya.

Lirik lagu tersebut dapat membuat kita merenungkan dan mempertanyakan niat kita dalam beribadah. Menanyakan lagi keimanan kita kepada Sang Maha Agung....Membuatku merenungkan lagi, apakah memang aku beribadah hanya karena aku takut akan keberadaan neraka? Ataukah karena memang aku ingin beribadah kepada-Nya sebagai wujud terima kasihku atas segala karunia dan berkah yang telah aku dapatkan karena kemurahan hati-Nya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah aku sujud kepada-Nya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkan aku menyebut nama-Nya?

Duh gusti Allah....aku bermohon kepada-Mu...maafkan kepicikan hamba-Mu ini, jikalau aku bersujud hanya karena aku takut akan neraka-Mu. Ampuni dosa hamba-Mu ini, jikalau aku menyembah-Mu, hanya karena aku ingin mendapatkan kemewahan surga-Mu....Ajari aku caranya mencintai dengan tulus ya Allah, sebagaimana Engkau mencintai kekasih-Mu....Ajari aku cara supaya bisa ikhlas dalam menyembah-Mu ya Allah....Ajari aku untuk menjadi seorang hamba yang rendah hati.....

Jika surga dan neraka tak pernah ada....apakah engkau masih akan sujud kepada-Nya?