Monday, October 04, 2004

nurani

Terik panas matahari mencuri lewat di sela bayangan daun-daunan. Jembatan penyeberangan di depan kampus sebuah universitas negeri ternama, kotor oleh sampah-sampah kulit permen, gelas plastik bekas minuman, dan debu-debu ramai dilalui orang yang masih punya kesadaran bahwa jembatan itu disediakan untuk digunakan. Kutapaki satu persatu tangganya sambil menunduk, tak ingin terpeleset karena tangga yang didesain terlalu dekat antara tiap anak tangganya. Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan kaleng bekas di depan mukaku. Aku tersentak, lalu aku arahkan mataku ke si empunya tangan. Seorang ibu-ibu muda, dengan bayi di pangkuannya dan seorang anak perempuan yang terbalut debu kota duduk di sampingnya.

Tak jauh dari situ juga ada beberapa ibu-ibu, dan anak-anaknya, menyodorkan kaleng bekas atau plastik untuk meminta belas kasihan orang yang lewat di jembatan itu. Niatku untuk mengulurkan uang sekedarnya kepada salah satu ibu itu urung. "Mereka kan masih muda dan kuat, bisa mencari pekerjaan yang layak. Pasti mereka adalah sindikat pengemis yang disebarkan di pelosok Jakarta oleh bosnya" pikirku dalam hati.

Aku pun terus berjalan menapaki jembatan itu. Tapi entah mengapa, ada rasa bersalah di dalam hati kecilku. Rasa bersalah karena tidak mau menyisihkan sebagian kecil duitku untuk mereka. Walau akal sehatku mengatakan itu bukan totally kewajibanku untuk mempedulikan keadaan mereka, tapi hati kecilku berkata lain. Aku menyesal tidak jadi berbagi sedikit rejeki dengan mereka.

Duh...maafkan aku ya Allah...karena tidak punya kepedulian kepada mereka yang kurang beruntung dari aku. Sudah sering aku melihat ibu-ibu beserta anak-anaknya, memakan nasi bungkus yang digelar di trotoar, di pinggir jalan-jalan besar, di mana lewat mobil-mobil mewah, bercat metalik mengkilap, keluaran terbaru. Anak-anak yang harusnya ada di rumah, menikmati masa kecilnya, harus ikut berjuang hidup, dipaksa atau tidak dipaksa oleh orang tuanya.

Duh Tuhan...ke mana larinya nurani pemimpin bangsa ini....membiarkan calon-calon penerus bangsa ini telantar di jalanan. Kalau saja ada kesadaran dari para pemimpin bangsa ini, untuk tidak korupsi, pasti banyak kesempatan pekerjaan untuk ibu bapak mereka, ada fasilitas sosial untuk menopang kehidupan mereka, subsidi untuk sekolah mereka, fasilitas kesehatan mereka. Kalau ku lihat berita di media massa, yang jadi bahan pertimbangan dari pemerintah, selalu saja kepentingan bisnis. Demi mendapatkan utang yang lebih besar, pemerintah rela menggadaikan kesejahteraan bangsanya. Kalaupun utang itu bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyatnya mungkin tidak menjadi masalah. Tapi kenyataannya, utang itu menguap dengan menyisakan hanya sebagian, yang digunakan untuk membiayai proyek yang sebetulnya tidak dibutuhkan rakyatnya.

Ya Allah, semoga saja, pemerintah yang baru ini masih mempunyai nurani untuk tidak membiarkan rakyatnya jatuh lebih terpuruk ke dalam kesengsaraan. Kami percayakan kelangsungan hidup kami dan anak cucu kami pada mereka. Bimbinglah mereka supaya mereka tidak menyalahgunakan kepercayaan kami ini ya Allah.