Friday, July 23, 2004

Perubahan Prioritas...

Kumpul-kumpul dengan teman lama memang mengasyikkan. Kami bisa bertukar cerita mengenai kejadian-kejadian yang baru terjadi atau sekedar nostalgia masa-masa "kejayaan" dulu  Teethy.  Kalau sudah begitu biasanya kita bisa lupa waktu.

Dulu sebelum aku berkeluarga dan punya anak, kumpul-kumpul dengan teman lama ini rasanya bisa jadi menu wajib tiap minggunya. Sekedar ngobrol sambil makan, "turing" ke tempat-tempat yang baru, atau melepaskan stres ke puncak gunung.

Tapi sekarang, setelah berkeluarga dan punya anak, prioritas pun berubah. Waktu kumpul dengan teman berkurang. Kalaupun ingin ketemuan, biasanya aku harus cari-cari atau bahkan curi-curi waktu. Anakku yang baru berumur 1 tahun 2 bulan masih aku berikan ASI. That means, dia masih sangat tergantung padaku, apalagi kalau mau tidur. Dan ini berarti, aku tidak punya banyak waktu luang untuk "hanging out" dengan teman-temanku, apalagi kalau ketemuannya malam, sepulang kerja.

Contohnya beberapa hari yang lalu, aku dan beberapa teman janjian ketemuan sepulang jam kerja. Wah seneng banget aku bisa ngobrol-ngobrol sama mereka. Sampai akhirnya, waktu menunjukkan jam 19.42, aku teringat aku harus segera pulang. Aku pun pamit pada mereka, sambil berkata bahwa aku harus pulang karena sudah hampir jam delapan malam. Ternyata tak lama setelah aku pamit, ibuku telepon, dan bilang bahwa Rakan, anakku, mulai rewel karena mengantuk, tapi tidak bisa tidur.

Temenku sempat bilang "Makanya jangan nikah dulu biar bisa nongkrong lebih lama", aku balas bilang ke dia "Aku tidak menyesal kok nikah dan punya anak, lagian aku sudah puas nongkrong waktu belum nikah dulu". Dia hanya tersenyum mendengar balasanku.

Tapi pernyataanku itu memang benar adanya. Aku tidak pernah menyesal menikah dan punya anak. Menikah dan punya anak tentu mempunyai banyak konsekuensi. Tapi aku tidak pernah berkeberatan dengan segala konsekuensi tersebut. Walau terkadang itu berarti aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri.

Sejak punya anak, prioritasku pun sudah berubah secara otomatis. Anakku (dan juga suamiku) adalah prioritasku. Tanpa merasa terpaksa, kalau aku kumpul dengan teman-teman, aku akan pamit pulang duluan demi anakku. Atau kalau teman-temanku mengajak ketemuan, jika tidak bisa membawa Rakan, atau tidak diijinkan oleh suamiku, tanpa merasa terpaksa, aku akan membatalkan datang.

Mungkin buat orang lain, hal ini kelihatan berat, tapi bagiku....hal itu serasa mengalir secara alami....mungkin ini naluri seorang ibu.

 
* untuk orang-orang yang aku kasihi...Suami dan anakku... I Love You Flowers 








Tuesday, July 20, 2004

Lelaki Tua dengan Pikul di Pundaknya

Pagi yang cerah,
Seperti biasa pasar ramai dengan berbagai transaksi
antara tukang sayur dengan pembeli
Aku dan anakku menelusuri gelaran barang dagangan
mencari sayuran untuk dimasak hari itu
 
Lewat seorang lelaki tua
Berjalan tertatih
Keriput di wajahnya melukiskan
Perjalanan waktu dan kisah kehidupannya
 
Dua bakul penuh berisi belimbing wuluh
yang dipikulnya
bergoyang-goyang
seirama dengan langkahnya
yang tersendat
 
"Kasihan orang tua itu"
Ujar seorang pedagang sayur
Aku menoleh, hatiku trenyuh
Sekaligus salut
 
Orang setua itu, masih mau memikul
menjajakan barang dagangan
yang kurasa tidak banyak orang yang berminat
 
Kemana anak-anak orang tua itu
Harusnya di umurnya yang sekarang
Dia bisa duduk tenang di rumah
Beristirahat, menikmati sisa hidupnya
 
Bagi orang yang tidak mengenalnya
Mungkin mereka akan berpikir
Bahwa lelaki tua itu adalah orang yang malang
 
Tapi kita tidak boleh menilai hanya dari luar
Mungkin saja dia tidak mau dikasihani
Mungkin saja dia memang tidak bisa hanya duduk diam
Dia tidak mau hanya mengandalkan bantuan dari anak-anaknya
Mungkin saja dia mau, Agar sisa hidupnya bisa tetap berguna
Bukan jadi lumpuh yang hanya mengandalkan orang lain
Walaupun itu dari anak-anaknya sendiri
 
Bapak tua dengan dua bakul belimbing wuluh
Walau hadir sekilas di hadapanku
Aku bisa belajar banyak darinya
Untuk bisa memberi dengan ikhlas
Untuk bisa tetap berguna walaupun di usia senja
Untuk terus mengisi kehidupan dengan kegiatan yang berguna
 
Bapak tua dengan dua bakul belimbing wuluh
Semoga lebih banyak orang yang bisa belajar darimu.......