. Kalau sudah begitu biasanya kita bisa lupa waktu.
Dulu sebelum aku berkeluarga dan punya anak, kumpul-kumpul dengan teman lama ini rasanya bisa jadi menu wajib tiap minggunya. Sekedar ngobrol sambil makan, "turing" ke tempat-tempat yang baru, atau melepaskan stres ke puncak gunung.
Tapi sekarang, setelah berkeluarga dan punya anak, prioritas pun berubah. Waktu kumpul dengan teman berkurang. Kalaupun ingin ketemuan, biasanya aku harus cari-cari atau bahkan curi-curi waktu. Anakku yang baru berumur 1 tahun 2 bulan masih aku berikan ASI. That means, dia masih sangat tergantung padaku, apalagi kalau mau tidur. Dan ini berarti, aku tidak punya banyak waktu luang untuk "hanging out" dengan teman-temanku, apalagi kalau ketemuannya malam, sepulang kerja.
Contohnya beberapa hari yang lalu, aku dan beberapa teman janjian ketemuan sepulang jam kerja. Wah seneng banget aku bisa ngobrol-ngobrol sama mereka. Sampai akhirnya, waktu menunjukkan jam 19.42, aku teringat aku harus segera pulang. Aku pun pamit pada mereka, sambil berkata bahwa aku harus pulang karena sudah hampir jam delapan malam. Ternyata tak lama setelah aku pamit, ibuku telepon, dan bilang bahwa Rakan, anakku, mulai rewel karena mengantuk, tapi tidak bisa tidur.
Temenku sempat bilang "Makanya jangan nikah dulu biar bisa nongkrong lebih lama", aku balas bilang ke dia "Aku tidak menyesal kok nikah dan punya anak, lagian aku sudah puas nongkrong waktu belum nikah dulu". Dia hanya tersenyum mendengar balasanku.
Tapi pernyataanku itu memang benar adanya. Aku tidak pernah menyesal menikah dan punya anak. Menikah dan punya anak tentu mempunyai banyak konsekuensi. Tapi aku tidak pernah berkeberatan dengan segala konsekuensi tersebut. Walau terkadang itu berarti aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri.
Sejak punya anak, prioritasku pun sudah berubah secara otomatis. Anakku (dan juga suamiku) adalah prioritasku. Tanpa merasa terpaksa, kalau aku kumpul dengan teman-teman, aku akan pamit pulang duluan demi anakku. Atau kalau teman-temanku mengajak ketemuan, jika tidak bisa membawa Rakan, atau tidak diijinkan oleh suamiku, tanpa merasa terpaksa, aku akan membatalkan datang.
Mungkin buat orang lain, hal ini kelihatan berat, tapi bagiku....hal itu serasa mengalir secara alami....mungkin ini naluri seorang ibu.
* untuk orang-orang yang aku kasihi...Suami dan anakku...