Wednesday, June 30, 2004

Pengorbanan



"Rapat lagi????!!", Tanya ibuku. "Iya bu...kali ini lokakarya untuk team building, ibu bisa ikut kan...bantu aku momong Rakan. Tempatnya di Anyer bu, pinggir pantai...Rakan pasti suka..." jawabku. "Bisa aja sih, tapi gak lama-lama kan?" tanya ibuku lagi. "Gak kok bu, cuma 3 hari" aku menjawab. "Bukan apa-apa, soalnya ibu ada pertandingan bola voli nih" sahut ibuku. "Ya sudah, nanti minta tolong bapak untuk menjemput, supaya kita bisa pulang duluan" ujarku.

Itu adalah sekelumit percakapan antara aku dan ibuku minggu lalu, soal bisa atau tidaknya dia menemani aku ke Anyer, karena aku harus mengikuti workshop dari kantorku. Aku terpaksa meminta bantuan ibuku, karena kalau aku rapat ke luar kota, aku harus mengajak Rakan, anakku, karena dia masih minum ASI.

Untungnya kebijakan di kantorku memungkinkan aku membawanya serta. Itulah keuntungan bekerja di LSM, gak untungnya, ya itu tadi....seringkali harus rapat di luar kota dan ini agak memberatkan buatku karena aku harus mengajak serta anakku, dan juga seseorang yang bisa mengasuhnya selama aku rapat, dalam hal ini ibuku yang membantu.

Akhirnya, jadilah ibuku menemani aku ikutan workshop. Kali ini workshop bertempat di sebuah hotel di pinggiran pantai Anyer. Walau aku tahu ibu mau ikut hanya karena Rakan bukan aku, tapi itu sudah membuatku tenang.

Sepanjang perjalanan ke Anyer, Rakan tampak gembira sekali. Ia mengoceh terus, bahkan yang biasanya dia akan mengantuk jika dalam perjalanan, hari itu dia tidak mengantuk sedikitpun. Rakan mengoceh terus sepanjang jalan. Dia memang senang bepergian. Mungkin karena sejak hamilpun dia sudah sering aku ajak pergi ya...hihihihi..

Setibanya di sanapun dia sangat antusias...mondar mandir keliling kamar, mengamati semua sudut kamar. Apalagi waktu dia diajak melihat pantai...wah tampak seperti orang yang sudah lama tidak pulang kampung. Rakan juga senang sekali waktu dia pertama kali memegang pasir...mungkin baginya rasa pasir di tangannya itu sangat exciting.

Tapi ya itu tadi, seperti biasa, ibu kurang bisa menikmati suasana di sana, terlebih lagi makanannya. Satu-satunya yang menghibur ya cuma Rakan itu. Padahal pemandangan di sana cukup indah.

(ini adalah pemandangan di tepi pantai tempat nginapku. Indah kan )

Aku dan Rakan...melihat sunset..

Rakan bergaya....cute isn't he?


Ibu memang sangat menyayangi Rakan, karena dia cucu pertama, laki-laki pula. Dulu ibu memang mendambakan punya anak laki-laki, tapi karena suatu hal, beliau tidak bisa hamil lagi. Karena itu ibu mau berkorban, ikut rapat denganku, untuk bisa selalu dekat dengan Rakan. Padahal aku pernah bicara padanya, kalau memang keberatan ikut, aku bisa minta bantuan orang lain untuk ikut, tapi karena ibu tidak bisa berpisah lama-lama dengan Rakan, maka akhirnya ibu mau ikut.

Itu hanya salah satu contoh pengorbanan ibu buatku, ada banyak pengorbanan lagi yang telah ibu buat untukku, disadari atau tidak. Dengan gaya khasnya, yang kadang terkesan cuek atau acuh, sebenarnya ibu adalah seorang yang perhatian. Tapi sekali lagi, gaya ibu memang lain dalam mengungkapkan perhatian. Orang lain mungkin akan melihat bahwa ibu itu galak dan cuek, tapi itulah cara ibu untuk mengungkapkan perhatiannya.

Ibu...terima kasih atas segala pengorbanan yang telah ibu lakukan buat aku. Aku sadar, aku belum banyak membalas segala perhatian dan kasih sayangmu, tapi aku akan terus berusaha bu....dan yang pasti aku sayang ibu....

I love you mom....

"Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu"

Dari Sebuah milist....sebuah cerita yang sangat menyentuh...semoga bisa memberikan hikmah kepada yang membaca...


"Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu"
Oleh : Neno Warisman - 'Izinkan Aku Bertutur'


Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"
Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku."
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan
seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah

Tuesday, June 22, 2004

Siapakah yang lebih beruntung?

Di tengah-tengah pusat perbelanjaan yang cukup ramai, seorang ibu dan anaknya yang baru saja lancar berjalan, tampak memunguti gelas-gelas plastik yang tercecer di sepanjang trotoar pinggir pusat perbelanjaan. Sang ibu, memanggul karung plastik di pundak, mengikuti langkah kecil si anak yang hanya memakai kaos lusuh tanpa alas kaki. Si anak tampak gembira mengambil gelas plastik bekas pelepas dahaga orang yang meminum isinya. Ditunjukkan kepada sang ibu gelas temuannya itu, sang ibu tersenyum, entah bahagia entah miris. Aku yang melihat adegan itu hanya bisa berdoa, semoga mereka menemukan banyak gelas-gelas plastik bekas sehingga pemasukan sang ibu lebih banyak dan semoga anak itu tidak jatuh sakit. Aku lalu berkata pada Rakan, anakku, "Sayang, kamu sangat beruntung, punya apa yang tidak mereka punya, menikmati apa yang mereka tidak bisa nikmati. Kamu harus bersyukur untuk itu." Rakan hanya memandangiku, mungkin dia mengerti, mungkin juga tidak. Yang pasti aku hanya ingin Rakan bisa bersyukur atas segala kemudahan yang dia miliki, sebetulnya itu juga berlaku untukku.

Sudah sering aku melihat pemandangan seperti itu. Pernah suatu hari aku melihat seorang ibu, sambil menggendong anaknya yang sedang menyusu dari payudaranya, berjalan di tengah mobil-mobil mewah yang sedang mengantri lampu merah. Si anak tampak mengantuk, sementara sang ibu menggendong karung yang sudah mulai berat dengan barang-barang bekas, sambil sesekali mengintip tempat sampah dengan harapan menemukan lebih banyak barang bekas yang bisa diambil untuk dijual kembali.

Lalu di lain waktu, di pinggir jalan yang ramai, satu keluarga dengan gerobaknya tampak menunggu matahari lebih bersahabat, supaya mereka bisa mulai mengais rejeki dari sampah-sampah orang lain. Sang Ayah, sebagai kepala keluarga, lengkap ditemani oleh anggota keluarganya, duduk di samping gerobak.

Hal ini seringkali membuatku trenyuh. Aku kerap bertanya, salah siapakah ini? apakah karena negara yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan memberikan kesejahteraan pada rakyatnya? apakah ini berkaitan dengan soal pendidikan? Atau soal nasib? takdirkah? atau hanya masalah sudut pandang saja?

Mungkin saja kalau dilihat dari sudut pandang orang yang berkecukupan atau berlebihan, kehidupan mereka yang miskin terlihat menyedihkan. Tapi mungkin saja bagi mereka yang miskin, kehidupan orang-orang kaya-lah yang menyedihkan, karena orang-orang kaya harus melupakan keluarganya, karena kesibukannya menumpuk harta; kehilangan ketenangan hidupnya, karena dikejar-kejar berbagai macam urusan kehidupan; kehilangan nikmatnya makanan, karena mulut mereka terlalu banyak mengecap berbagai macam makanan; atau bahkan kehilangan nurani dan empati mereka terhadap kesusahan orang lain, karena tertutup oleh urusan dunia.

Buatku, kehidupan mereka yang miskin tidak lebih menyedihkan daripada kehidupan mereka yang berkelebihan. Karena orang miskin masih bisa merasakan nikmatnya tidur walau hanya beralas kertas kardus dan berselimut sarung kumal, mereka masih bisa merasakan nikmatnya makan walau hanya makan nasi keras berlaukkan ikan asin, mereka masih mempunyai empati terhadap teman-teman mereka yang sedang kesusahan, mereka masih bisa bersyukur atas seberapapun rejeki yang mereka dapatkan hari itu.

Aku sendiri berusaha mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang lewat di hadapanku. Aku jadi belajar untuk lebih bersyukur atas segala kemudahan yang aku rasakan, aku belajar untuk bisa berbagi atas rejeki yang aku dapatkan, aku belajar untuk lebih bersabar atas segala kesulitan yang aku hadapi, aku belajar untuk menjadi lebih bersyukur kepada Allah SWT.

Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada di muka bumi ini...

Thursday, June 17, 2004

Ngambek

Sudah dua malam ini Rakan tidak tenang tidurnya, semalam malah lebih parah tiap setengah jam menangis, sambil masih memejamkan matanya. Gak tau deh kenapa. Lalu muncul beberapa analisa. Analisa pertama, karena gatal-gatal di pantatnya karena pake pampers. Analisa kedua karena di pagi harinya dia harus kecewa dua kali, pertama karena gak berhasil ikutan pakwo (panggilan untuk kakeknya) nyetir mobil, karena mobil pakwonya nongkrong di parkiran kantor, kedua karena aku tinggal kerja pake motor dan dia gak bisa ikutan naik motor lebih lama. Analisa ketiga karena sudah beberapa hari ini ayahnya lagi di luar kota. Menurutku sih semua analisa tersebut punya andil yang bikin dia gelisah. Yang jelas, dua malam ini dia tidak tidur dengan tenang.

Hal itu berarti bahwa aku juga tidak tidur dengan tenang juga...bagaimana bisa tidur nyenyak, kalau tiap saat mau memejamkan mata, aku terbangun lagi mendengar tangisan Rakan. Mau gak mau aku harus bangun dan menenangkan dia. Biasanya sih, setelah minum ASI dia mau tidur kembali, tapi tadi malam trik itu tidak berhasil.

Rakan tetap menangis. Duh tangisan itu begitu mengiris hatiku. Akhirnya aku bangun dan menggendongnya sampai dia tenang. Tapi tangisan Rakan yang melengking, ikut membangunkan orang serumah. Pakwo dan mbokwo (panggilan untuk nenek) ingin ikut mendiamkan tangisannya, dan mencoba menggendongnya, tapi Rakan menolak. Kayaknya sih memang karena dia ngambek sama ibunya makanya dia sekarang sedang unjuk rasa. Jadilah aku gendong dia mondar-mandir keliling rumah sampai dia tenang.

Setelah tenang akhirnya dia mengajak kembali masuk ke kamar tidur. Dan begitu diletakkan di tempat tidur dia langsung tertidur...sambil kaki dan tangannya memelukku...

Wajah polosnya kembali mengusik hatiku. Kupandangi wajahnya sambil berbisik dalam hati "Rakan maafkan ibu ya kalau ibu kurang memberikan perhatian, kurang sabar dalam merawat Rakan, Ibu sayang Rakan...". Kukecup keningnya lalu kupeluk tubuh mungilnya.

Ya Allah...berikanlah kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan kepadaku dalam mendidik, merawat dan mengasuh anakku supaya dia bisa menjadi orang yang bertaqwa kepada-MU.

Akupun akhirnya tertidur sambil memeluknya. Tidur yang nyenyak ya Rakan...ibu berjanji akan berusaha lebih keras lagi supaya bisa menjadi ibu yang baik buat Rakan....

I love you my precious...

Rakan waktu umur 4 bulan

Friday, June 11, 2004

Are you ready to accept the thunder and lightning?


"If I accept the sunshine and warmth, I must also accept the thunder and lightning..."
(Kahlil Gibran)

teman online:"Woi...apa sih artinya status YM loe?"
Wiwit:"Status apaan?"
teman online:"Itu status yang loe pasang di YM loe"
Wiwit:"Gak ngerti deh.." *sambil nyengir karena gak nge'h

Lalu aku segera mengecek status di YM-ku...ternyata di situ tertulis kutipan dari Kahlil Gibran, seperti yang tertulis di atas. Aku memang tidak aware bahwa status itu yang terpasang di YM-ku, soalnya seingatku aku menuliskan kutipan yang lain.

Hal ini berawal dari kunjunganku ke blog teman baikku Oetjy, dari sana aku mendapatkan link ke website Opa Kahlil Gibran. Di sanalah kemudian aku menemukan kutipan-kutipan beliau yang menarik untuk jadi bahan renungan. Salah satunya adalah kutipan di atas, yang aku copy-paste ke dalam status YM-ku, tapi....tidak muncul di kolom statusnya. Lalu aku tuliskan saja status yang lain. Ternyata kutipan pertama yang aku copy-paste muncul juga, tanpa sepengetahuanku.

Setelah mendapatkan pertanyaan dari salah satu teman online-ku itu, aku baru nge'h bahwa arti kutipan itu sangat dalam, paling gak buat aku. If I accept the sunshine and warmth, I must also accept the thunder and lightning...mungkin secara sederhana bisa diartikan "kalau aku bisa menerima kelebihan (seseorang), aku juga harus menerima kekurangannya".....atau kalau diartikan lebih mendalam lagi..."Kalau aku mau menerima kelapangan (kesenangan), aku juga harus mau menerima kesusahan (kesedihan).
Buatku sih kedua arti tersebut sama-sama cocok. Karena menurutku (dan juga suamiku) itu adalah salah satu kunci kebahagian dan ketenangan dalam hidup.

Arti yang pertama sendiri, menurutku, sebenarnya cukup penting dalam suksesnya menjalin sebuah hubungan, apakah itu hubungan pertemanan, kekasih, atau bahkan suami istri. Mau menerima kelebihan dan kekurangan, kedengarannya memang klise, tapi tidak bisa dipungkiri kalau kita menginginkan sebuah hubungan yang harmonis, kita harus bisa melakukan hal tersebut. Kita tidak bisa hanya mau menerima kelebihan seseorang saja dan menolak kekurangannya, karena itu adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan, seperti magnet yang mempunyai dua kutub, positif dan negatif. Kita harus bisa memberikan toleransi atas kekurangan seseorang, toh kita telah menikmati kelebihan mereka. Jadi kalau kita bisa melakukan hal tersebut, kemungkinan besar untuk menghindar dari "jalan berbatu" dari sebuah hubungan bisa dilakukan.

Arti yang kedua, rasanya ini lebih pada hubungan dengan diri sendiri, mengenai ketulusan dalam menjalani hidup, atau kalau orang jawa bilang "nrimo". Hidup memang bagai roda yang berputar, kadang kita berada di atas, dilimpahi dengan kesenangan, kebahagiaan, kesuksesan, kelebihan, tapi ada saatnya juga kita berada di bawah, melalui jalan berlubang, lumpur, dimana kita harus merasakan kesedihan, kesusahan, kekurangan, dsb. Nah kutipan ini memberikan renungan bagi kita, bahwa jika kita siap menerima kesenangan dan kelebihan, kita juga harus siap menerima kesusahan dan kekurangan. Kalau kita tidak siap, yang terjadi adalah kita menjadi orang yang tidak tenang dan stress dalam menjalani hidup. Selalu merasa jadi orang yang kurang beruntung, selalu merasa kesusahan, selalu merasa jadi orang yang paling malang di dunia. Kalau kita bisa memandang kesusahan, kesulitan itu adalah suatu proses yang harus kita jalani, bukan suatu beban berat yang membelenggu, Insya Allah, kita akan lebih ringan dan mudah dalam menjalaninya. Toh Allah sendiri mengatakan dalam surat Al Sharh (94:5-6)yang berbunyi "Karena sesungguh sesudah kesulitan itu ada kemudahan"...hal ini dikatakan hingga dua kali.Kalau itu janji Allah, maka harusnya kita harus ikhlas dalam menerima kesulitan, karena kita tahu setelah kesulitan itu pasti kita akan diberikan kemudahan.

Lalu apakah aku sendiri sudah seperti itu? Jujur saja, hingga saat ini aku masih terus belajar untuk menerima kelebihan dan kekurangan dan juga belajar menerima kemudahan dan kesulitan dengan lebih lapang dada dan ikhlas...semoga saja aku tidak bosan untuk terus belajar...supaya tidak droup out... :P amiiin..

Wednesday, June 09, 2004

My own blog...yiipeee!

Setelah berpusing-pusing berusaha membuat template untuk blogku, akhirnya aku menemukan template gratisan yang aku pikir cocok untukku dan bisa dijadikan format sementara, sampai aku bisa buat sendiri (gak tau sampai kapan, karena ternyata aku agak gatek dengan aplikasi pembuat halaman website, macam dreamweaver dan konco-konconya :P)..thanks to templates for blogger..yang udah ngasih gratisan...

Ternyata dunia blog ini memang sangat mengasyikkan...dari sini kita jadi banyak teman (ini sih pengalaman dari temen-temen yang udah lama nge-blog) dan juga jadi banyak inspirasi...(kalo gak mau dibilang nyontek sih..hihiihi), tapi meniru yang baik itu kan sangat dianjurkan..ya gak sih ;)?.

Sebenernya aku kenal blogger, udah lama juga, udah dari tahun 2002...tapi waktu itu belum begitu booming kayak sekarang. Dulu sih sekedar untuk dijadikan diary, kalo pikiran lagi suntuk...atau sekedar menuliskan puisi-puisi dangdut yang gak pengen dibaca sama orang lain...hehehe...

Tapi belakangan ini, ternyata blog jadi semacam trend, menjadi sebuah komunitas tersendiri. Tiap blog mempunyai ciri khas dan konsep masing-masing...boleh dibilang, mencerminkan karakter dari pemiliknya.

Iman dan Uci punya andil besar dalam mendorongku untuk menseriusi blog ini. Tadinya malah Uci pengen supaya kita (aku dan dia) launching blog bareng-bareng. Tapi berhubung, gue terlalu sibuk dengan kerjaan kantor (dan juga sibuk mikirin konsep blog, hehehehe). Akhirnya Uci launching duluan...(sorry ya Uc..akhirnya baru sekarang gue bisa launching blog gue..hehehehe).

Nah, dari blog mereka juga, aku bisa masuk ke blog-blog lain...yang notabene bikin aku "ngiler" dan penasaran banget punya blog sendiri yang juga berkonsep....tapi ternyata susah juga ya apalagi dengan keterbatasan kemampuan dalam menggunakan aplikasi dreamweaver dan photoshop. Padahal pengen banget punya blog yang berkonsep dan merupakan hasil karya sendiri...

Tapi...kalau nunggu sampe jadi ahli dreamweaver, sampai kapan blogku bakalan dipublish. So I took my best friend advice, to be more concern on the content rather than the appearance...hihihihi..walaupun penampilan juga penting sih....:P

So, setelah berpusing-pusing mikirin cara bikin template, aku browse saja, nyari template yang gratisan...hasilnya...ya seperti yang anda lihat sekarang ini...

Untuk saat ini kayaknya aku harus puas dengan apa yang ada dulu...yang penting, keinginan untuk menulis sudah bisa aku salurkan....yiipeee!!!

Tuesday, June 08, 2004

Hidup penuh dengan pilihan

Wah...sudah hampir jam enam sore, dan aku baru saja mematikan komputerku di kantor. Bakalan telat lagi nih sampai di rumah. Terbayang, tawa ceria anakku yang baru berumur 10 bulan, aku jadi ingin cepat-cepat meninggalkan kantor ini. Segera setelah kubereskan meja dan mematikan AC di ruanganku, aku bergegas untuk pulang, tak lupa untuk menandai absenku di mesin absen.

Di dalam bis aku mulai gelisah...Jalan Raya Mampang setiap sore pasti macet, bukan karena ada yang menghambat, tapi memang karena begitu banyaknya mobil yang keluar dari garasinya. Dan kulihat, mobil-mobil itu sebagian besar hanya diisi satu orang saja....duuuhhh....betapa tidak adilnya. Aku jadi ingat cerita temanku bahwa mengendarai mobil dengan hanya diisi satu orang saja, itu sudah melanggar hak asasi orang banyak, karena menuh-menuhin jalan raya. Bandingkan saja dengan biskota di Jakarta ini, di mana satu biskota dijubeli dengan berpuluh-puluh orang, padahal kapasitas bis itu hanya 30 orang...betapa sesaknya....

Tapi itu adalah pilihan..(dan juga kesempatan) memakai mobil dengan AC yang dingin dan nyaman, tentunya lebih mengasyikkan dibandingkan naik biskota yang penuh, sesak dan sumpek...jadi walaupun melanggar hak asasi orang banyak, naik mobil memang lebih menyenangkan. Untung saja aku gak punya mobil, jadi aku tidak diberi kesempatan untuk melanggar hak asasi orang banyak..hehehehe...(omongan orang yang gak punya neh :-P).

Kulihat lagi jam di HP-ku, sudah hampir jam setengah tujuh, bayang-bayang anakku muncul lagi, kali ini bukan dengan tawa cerianya, tapi dengan rengekannya kalau sudah mengantuk. Aku putuskan untuk turun dari bis dan menyambung dengan ojek (tadinya mau naik bajaj, tapi ojek lebih cepat sampai karena bisa lewat di sela-sela mobil yang berderet antri lampu merah).

Saat aku berjalan ke arah kumpulan tukang ojek di perempatan Santa, aku melihat tukang ojek yang sebelumnya pernah aku sewa jasanya. Tampaknya dia pun sudah mengenali aku (sering ngojek di situ sih :P). Setelah aku sampaikan tujuanku, dia langsung tahu tempatnya, karena memang sebelumnya sudah pernah mengantarkan aku.

Dalam perjalanan menuju rumah itulah si tukang ojek (yang aku gak tahu namanya, karena gak sempet nanya bercerita mengenai pilihan hidupnya. Awalnya sih aku cuma bertanya apakah motor yang digunakan untuk mengojek miliknya sendiri. Lalu dia mulai bercerita, bahwa motor itu dibelikan orang tuanya karena dia menganggur sedangkan dia sudah punya anak istri yang harus dihidupinya. Dia juga bercerita bahwa dia dulunya pernah kuliah (kalo gak salah tahun 1996) di jurusan perbankan D1, di sebuah sekolah tinggi yang kurang terkenal. Dia bilang dia pilih D1 perbankan karena pada masa itu lagi booming bank di Indonesia, dan tempat kuliahnya menjanjikan bahwa lulus kuliah, bisa langsung bekerja di Bank.

Dalam ceritanya juga dikatakan, bahwa orangtuanya sebetulnya tidak setuju dia mengambil D1 dan memintanya untuk sekolah D3 (kebetulan dia juga sudah diterima di Budi Luhur, sebuah sekolah tinggi informatika). Tapi dia tetap ngotot dengan pilihannya itu, dan merasa yakin selesai sekolah bisa bekerja di Bank.

Dia lalu berkata, bahwa sekarang dia menyesali pilihannya itu, karena ternyata boro-boro mendapat kerja, untuk praktek kerja lapangan saja, dia harus mencari tempat sendiri. Ternyata setelah lulus, dia juga tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Disampaikan pula rasa irinya, melihat teman-teman seangkatannya, yang memilih kuliah di universitas yang jelas, sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan. Dan akhirnya dia sekarang harus menganggur, dan karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi, dia mengojek.

Dari cerita tukang ojek itu, aku tercenung. Betapa hidup itu penuh dengan pilihan. Plihan kita di masa ini, akan menentukan keberadaan kita di masa yang akan datang. Dulu pun aku pernah dihadapkan atas dua pilihan, kuliah akuntansi di Perbanas (aku lulus tes dan membayar uang pangkal, bahkan sudah mempersiapkan penataran), atau kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan UI (dulu aku sama sekali tidak tahu JIP itu belajar apa, aku hanya tahu dari temanku bahwa lulusan JIP bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah).

Kalau saja, aku tetap memilih kuliah di Perbanas, mungkin saat ini aku tidak akan menulis di Blog ini, tidak akan bertemu dengan teman-teman JIP yang unik dan asyik itu, tidak akan mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan bersama mereka, dan tidak akan bekerja di tempatku sekarang ini, yang banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang tidak pernah aku dapatkan di Sekolah. Tapi mungkin saja, kalau aku tetap di Perbanas, aku sekarang ini sudah bekerja di sebuah perusahaan internasional dengan gaji besar dengan fasilitas mobil, dan berkantor mewah, tapi kurang berempati terhadap kejadian di sekitarku.

Teman-temanku juga sering bercerita tentang pilihan-pilihan hidup mereka. Well...one thing for sure, Aku tidak pernah menyesali pilihanku untuk tetap kuliah di JIP (atau pilihan hidupku yang lain) karena saat aku bimbang memilih, aku bertanya langsung kepada yang Maha Tahu. Dan aku yakin, pilihanku ini adalah yang terbaik buatku.

Terbayang lagi wajah anakku, dengan senyum lebarnya (gaya malih tongtong, seorang pelawak betawi) yang memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang mulai tumbuh.....Terima kasih ya Allah....atas petunjuk-Mu lah aku telah memilih jalan yang terbaik buatku, sehingga Engkau pertemukan aku dengan teman-temanku, dengan Suamiku, dan saat ini Engkau amanatkan padaku seorang anak yang lucu....

Hidup adalah pilihan....sekali kamu pilih, tidak ada jalan balik untuk mengubah pilihanmu....so guys, never regret for what you have chosen...jalani dengan sebaik-baiknya dan tetap mencari sisi positif dari pilihanmu, supaya bisa menghilangkan (setidaknya mengurangi) sisi negatifnya... Dan kalau kamu merasa tidak ada sisi positifnya sama sekali dari pilihanmu....berarti sudah saatnya kamu melepaskan pilihan yang lama untuk memilih yang baru....(bukan karena mentang-mentang mau pemilu....ngomongnya jadi tentang pilihan lho ya...hehehehehe)

Apakah Mereka Peduli? Harus!!

Kemarin aku harus ke rumah seorang teman di daerah Pulomas. Perjalananku ke sana kutempuh dengan naik Patas P4 jurusan Blok M-Pulogadung. Bus tidak terlalu penuh, tapi asap rokok terlihat mengepul di beberapa tempat duduk, sudah cukup membuat sesak pernapasanku. Duuh...orang-orang ini...tidak bisakah mereka lebih toleran kepada korban asap mereka. Akhirnya bus meninggalkan dari terminal dan asap rokok yang berkutat di dalam bis, sedikit demi sedikit terbawa angin yang masuk dari jendela bis. Satu kecemasan berlalu, diganti dengan kecemasan berikutnya. Bis ini ternyata disupiri oleh orang yang ugal-ugalan...Oh My God. Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan.

Akhirnya untuk menghilangkan kecemasanku aku alihkan pandangan ke luar. Kulihat di sepanjang jalan, bendera-bendera partai sudah mulai dipasang. Tidak hanya di jalan, di gang-gang, di jembatan, bahkan di atas pohon tinggi (nekat juga ya orang yang memasangnya) ada bendera partai dengan berbagai warna dan lambang.

Dan kulihat juga beberapa hari ini partai-partai itu mulai obral janji, pasang aksi, di Koran, televisi, radio, pamflet dan selebaran. Kelihatannya sih hanya partai-partai yang bermodal besar yang bisa beriklan di media elektronik, karena memang, biaya iklan di media itu tidak murah. Segala upaya dilakukan oleh partai-partai itu supaya orang-orang menitipkan suaranya kepada mereka. Kalau perlu mereka memasang topeng terbagus mereka supaya dipercaya.

Lalu kulihat lagi penumpang-penumpang di bis P4. Mereka terlihat asyik dengan dunianya. Seolah tak terpengaruh oleh gegap gempitanya acara 5 tahunan yang menentukan kehidupan bangsa ini. Tapi entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Apakah mereka peduli bahwa pilihan mereka terhadap partai dalam pemilu nanti akan menentukan arah negara ini? Apakah mereka peduli caleg yang mereka pilih akan menentukan kebijakan negara ini? Apakah mereka peduli kalau mereka salah pilih, negara-negara ini akan dipimpin orang-orang yang korup, yang tidak pedulikan kesejahteraan rakyat, dan hanya pedulikan kesejahteraannya sendiri? Apakah mereka peduli, kalau mereka salah pilih, negara ini akan dibawa ke jurang kehancuran?

Harus! Mereka harus peduli! Tapi untuk menjadi peduli, mereka juga perlu disadarkan. Disadarkan bahwa dalam menitipkan suara mereka, mereka harus jeli dalam memilih wakilnya. Jangan sampai mereka memilih karena mereka suka dengan lambang partainya saja. Jangan sampai mereka memilih partai hanya karena mereka mengidolakan seorang tokoh, tanpa mempedulikan apakah tokoh tersebut mampu mengemban amanat yang dititipkan kepadanya. Jangan sampai mereka terbuai "jualan kecap" partai-partai dan para caleg, tanpa melihat "track record" mereka. Jangan sampai mereka memilih partai atau caleg yang jelas-jelas selama ini telah menindas rakyat. Jangan sampai mereka memilih wakil-wakil yang tidak bisa dipercaya.

Mereka harus bisa memilah dan memilih partai dan caleg yang mempunyai visi dan misi yang jelas. Mereka harus memilih partai dan caleg yang berpihak kepada rakyat kecil, yang bisa dipercaya, dan yang mempunyai komitmen untuk terus memperjuangkan hak rakyat kecil.

Lalu siapakah yang bisa menyadarkan mereka? Yang bisa membuka mata mereka supaya mereka bisa lebih jeli? Apakah kita semua harus shalat istikharah? (*pertanyaan dari ade di postingan sebelumnya). Yang pasti semua harus ambil peranan dan ambil bagian. Bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi ini harus dilakukan. Aku sudah mencoba melakukannya pada lingkup terkecil, yaitu keluarga. Tapi menggoyahkan sebuah fanatisme memang bukan hal yang mudah...

*Semoga saja pemilu kali ini ada partai dan caleg yang jujur, cerdas, bersih, adil, berkomitmen pada rakyat dan bisa menjaga amanat (ManĂ¢€¦ini kan motto dari partai pilihan loe kan :-P)....amiin

p.s. sebelumnya pernah diposting di blog JIP94